< Browse > Home / My Opinion / Blog article: Orang Bali Itu Pemalas…

| Mobile | RSS

Orang Bali Itu Pemalas…

July 24th, 2009 | 9 Comments | Posted in My Opinion

Pernah suatu ketika saya mendengar dari seorang teman bahwasannya ada teman lain yang memberi cap “Pemalas” pada orang Bali. Kontan hati saya panas mendengarnya. Pertama karena yang menyampaikan statement itu kebetulan masuk dalam list orang yang saya tidak suka (jadi inget list permintaan terakhir Spongebob di episode Squidward memberi kue bom. Listnya panjang buanget trus pas ditanya yang prioritas,”Yang berwarna merah”,jawab Spongebob. “Tapi semua ditulis dengan tinta merah” Keluh Squid) terus apa yang dia tuduhkan (menurut saya) tidak ada benarnya.

Setelah dipikir-pikir ada benarnya juga statement teman tersebut jika yang melihat bukan dari latar belakang yang sama dengan orang Bali. Maksudnya latar belakang profesi. Kebanyakan orang Bali lahir dengan bakat seni yang tinggi (sayang saya tidak mewarisi sedikit pun jiwa seni kedua orang tua saya. Jadi pingin tes DNA) dan menekuni profesi seniman baik secara profesional maupun konvensional (walah padanan katanya kayaknya salah, dulu kayaknya bolos pas pelajaran ini :D ).
Bagi mereka yang pernah tinggal dengan seniman atau pernah tau seniman itu seperti apa mungkin paham mengapa mereka kelihatan seperti orang malas, kerjaannya g jelas, melamun, menghayal, mondar-mandir g jelas, komat-kamit, dan tingkah aneh lainnya, karena itulah prosesnya. Proses pencarian ide yang kemudian melahirkan mahakarya yang mengundang decak kagum sekian banyak pihak. Menghadirkan sorot mata kagum dari sekian pasang mata yang melihat. Dan akhirnya menghasilkan pengakuan dari panca dan manca negara (halah).

Seperti yang pernah disampaikan Prof Yohanes Surya (bener g ya nama lengkapnya penulis buku Mestakung?), proses penciptaan ide itu ada 3 tahap Saturasi (Saturasi,bukan Masturbasi), Inkubasi (pengeraman ide) dan Iluminasi (pencerahan). Tahap pertama (saturasi, bukan masturbasi) adalah tahap pengumpulan informasi kemudian disimpan dalam bawah sadar untuk dierami, nah suatu ketika setelah menetas keluar balon di atas kepala, makanya disebut pencerahan (iluminasi) karena cahaya balon itu cerah (ngawur mode :On)

Seperti obat herbal yang efeknya berbeda pada tiap orang, tahapan tersebut pun jenjang waktunya berbeda pada setiap orang dan tidak sama setiap waktu, dalam artian satu orang mungkin suatu waktu bisa mendapat ide dalam waktu singkat dan bisa pula memakan waktu lama untuk mendapatkannya.

Nah, seperti itulah kiranya penjelasan saya tentang penyebab kenapa orang Bali kelihatan Malas.
Ingat, proses kreatif muncul ketika kita dalam kondisi bebas. Tidak ada kreatifitas dalam keterikatan. Makanya, pekerja seni jarang yang terikat waktu…

Leave a Reply 2117 views, 2 so far today |

Tulisan Acak

Follow Discussion

9 Responses to “Orang Bali Itu Pemalas…”

  1. wira Says:

    jadi inget kalimat “orang luar bali jual cap cay beli tanah, orang bali jual tanah beli cap cay” :D

  2. sawali tuhusetya Says:

    kalau menurut saya sih, karakter pemalas itu lebih berkaitan dengan orangnya, mas adi, bukan pada aspek kesukuan atau unusr2 primordial kyang lain.

  3. adi Says:

    Hiks, kok pada fast reading sih :’(
    Padahal di atas saya nulis alasan kenapa orang Bali kelihatan malas di mata orang luar.
    Saya membuat pembelaan bagi orang Bali.

  4. Bisnis Online Says:

    yaa mungkin aja bisa jadi ada aspek kesukuan juga, misalnya suku A terkenal karena malas, karena di daerahnya sudah kaya raya, nah kata-kata pemalas tersebut akan dibawa kemana2, sehingga apabila salah saorang suku A merantau, dirinya tetap dikatakan pemalas, dan kata tersebut seolah2 memprogram kinerja otaknya..

  5. Adieska Says:

    Hm… Seniman memang secara kasat mata kelihatan malas bekerja (secara fisik), tapi otaknya sangat keras bekerja. Saya juga malas bgt kerja, apalagi cuci ama setrika baju. Tapi kalo kerjaan online, rajinnya minta ampun :P

    Org batak juga kalo di kampung2 kelihatan pemalas bro… Pagi sampe sore di kedai minum kopi, main catur, main kartu. Malam minum tuak sambil nyanyi2. Tapi anaknya sekolah tinggi2 dan banyak yang sukses di perantauan. So, belum tentu “malas” secara kasat mata menerangkan bagaimana kondisi seseorang itu sebenarnya :D

  6. adi Says:

    Akhirnya ada yang membaca my entire post :D
    Wah, sama mah ma gw. Nih baju banyak numpuk di kamar ma di jemuran (bantuin donk :D )
    Bisa kalah gw klo main catur ma orang Batak bos :D
    Iyah, katanya jangan menghakimi buku dari kopernya (terjemahan bebas dari “Don’t judge the book by its cover”).
    Lagian kan yang penting outputnya yah bos. Kayak loe, biarpun malas yang penting dah banyak uang dari penghasilan online :D
    Kemana aja loe bos?
    Dah jarang nongol, sibuk ngurusin orang utan yah?

  7. mark Says:

    wah, relatif jg sich, kan di mana2 byk nama e pemalas,,

  8. kips Says:

    Penempatan sifat pemalas bisa dipengaruhi kondisi lingkungan secara intern, jadi saya rasa kurang tepat kalau secara general dengan menunjuk tempat/ daerah sebagai sasarannya. Maaf kalau pendapatnya kurang tepat. Salam kenal.

  9. wayan Says:

    nanoe biroe kapan ngeluarin album baru ge. . .?

Leave a Reply

IMG_1647Kenya 2009 003DSCF1364235Sail 2010-297P1010459.JPGGombák Dobogókő utánグーグルTV 動画Halle_8_ganzMt Robson 09-162